Memasak Untuk Jualan


Selasa, 1 Muharram 1443 Hijriyah menjadi awal Kami membuka usaha kuliner dengan produksi mandiri. Ayam goreng menjadi pilihan pertama karena konon katanya persiapannya ngga butuh waktu lama. Padahal beuh sebagai pemula yang ngambil usaha kuliner ini extra miles banget. 


Subuh-subuh sudah berangkat ke pasar. Puyeng banget, ini orang-orang pada ngapain sampe bejibun. Pantas saja Islam sangat aware dengan adab masuk ke pasar, ternyata memang banyak cobaannya. 

Yuk kita berdoa dulu :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Pertama kali masuk ke pasar sudah bingung banget mau parkir dimana. Beruntung ada celah nyempil mepet tempat jualannya seorang Ibu penjual kembang tahu. Satu masalah selesai, kita akan lanjutkan petualangan menuju tujuan utama yaitu mencari tempat penjual ayam. Terbelalak menyaksikan jejeran tukang penjual ayam. Bingung-bingung de ah... Namun tetap fokus mencari ayam yang masih segar dengan harga terjangkau. Beberapa kilo ayam sudah kami kantongi, mulai menyisir bumbu, perlengkapan bungkus makanan dan pelengkap ayam seperti timun, seladah bokor dan lain-lain. Kiranya cukup petualangan pertama masukpasar hari ini. Semoga tidak membuat kami kapok, karena mungkin hal ini akan kami lakukan secara rutin. Meski sedikit tersirat kita akan mendelegasikan kepada ahlinya. Hihihi... alias nitip.


Produksi perdana sempat terjadi drama, karena ada slek antara resep yang kita baca dengan kenyataan yang ada di depan mata. OMG ternyata kita hanya melihat resep sebatas untuk satu kilogram, padahal daging yang kita beli lebih dari satu kilogram. Solusinya kita kalikan saja resep untuk satu kilogram dengan persediaan bahan yang sudah tersedia. Ternyata terjadi jomplang dibeberapa bumbu masak. Solusinya berangkat ke warung terdekat untuk menutupi kekurangannya. Semoga masih kebagian karena waktu sudah menunjukkan siang menuju sore hari.


Waktu terus berjalan kumasih berjibaku dengan produksi. Sempat sedikit ragu apa harus hari ini juga. Namun sang partner terus menyemangati kita bisa memulainya sekarang juga. Pelan tapi pasti sebelum magrib semua sudah tersedia. Kita saling bahu-membahu, sampai anak-anakpun dikerahkan. 


Taraaa... semua sudah dijajakan ditempat jualan. Bismillaah... Kita mulai hari ini keluar dari zona nyaman. Kita tampil di depan tepatnya lebih depan karena gerobak kita diletakkan di depan pagar rumah. 


Azan magrib berkumandang, tangtingtung pemberitahuan whatsapp mengabarkan bahwa hari ini bertepatan dengan tahun baru Islam. Artinya ada kesesuaian pemaknaan hijrah. Saat inilah waktunya kita memulai berhijrah dari zona nyaman.


Terima kasih tak terkira untuk team keren yang tiada duanya. Kita berproses bersama ya my lovely husband, my lovely sons ; Abang, Aa dan Kaka. Tiada daya dan kekuatan kecuali hanya kepada Allah SWT.




0 Comments:

Posting Komentar